Logo V.2.0

Galeri Kegiatan

Ditjen Bina Konstruksi dan IZZASI–ASI Soroti Dominasi Impor Baja Lapis di Pasar Nasional


Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PU bersama Indonesia Zinc and Zinc-Aluminium Steel Industries (IZZASI) dan Australian Steel Institute (ASI) menggelar audiensi untuk membahas berbagai isu strategis terkait kondisi industri baja lapis di Indonesia. Dalam pertemuan tersebut terungkap bahwa meskipun kapasitas produksi Baja Lapis Aluminium Seng (BJLAS) dalam negeri tergolong memadai, penetrasi produk impor masih sangat mendominasi pasar nasional.

Executive Director IZZASI, Maharany Putri, menyampaikan bahwa pada tahun 2025 konsumsi nasional BJLAS mencapai 1,54 juta ton. Namun, kontribusi produsen dalam negeri hanya sekitar 740 ribu ton, sementara lebih dari separuh kebutuhan nasional masih dipenuhi oleh produk impor. Data tersebut disampaikan dalam audiensi yang berlangsung di Kantor Kementerian PU pada 15 Januari.

Menanggapi kondisi tersebut, Chairman ASI Mark Cain menekankan pentingnya penguatan kolaborasi lintas kementerian untuk menekan laju masuknya produk BJLAS impor ke pasar domestik. Ia berharap sinergi antara Kementerian PU dan kementerian terkait dapat memperkuat posisi industri baja lapis nasional.

Direktur Jenderal Bina Konstruksi Boby Ali Azhari yang hadir langsung dalam audiensi tersebut menegaskan bahwa tingginya ketergantungan pada impor baja lapis berpotensi menimbulkan risiko terhadap ketahanan rantai pasok, khususnya bagi proyek-proyek strategis nasional seperti pembangunan perumahan dan infrastruktur berskala besar.

Dirjen Boby juga menekankan pentingnya pemanfaatan data IZZASI yang terintegrasi dalam SIMPK sebagai dasar pengendalian rantai pasok baja lapis. Pendekatan berbasis data yang transparan dan terukur dinilai krusial dalam perumusan kebijakan yang mendorong peningkatan kapasitas rantai pasok baja berbasis produk dalam negeri, sekaligus memastikan pemenuhan standar mutu, SNI, TKDN, serta dukungan terhadap penerapan prinsip bangunan hijau.

Audiensi ini merupakan bagian dari langkah strategis untuk memperkuat kerja sama internasional dalam pengembangan industri baja berkelanjutan atau green steel. Melalui forum ini, ASI bersama Steel Sustainability Australia (SSA) diperkenalkan kepada para pemangku kepentingan di Indonesia, sekaligus membuka diskusi mengenai praktik terbaik dan skema sertifikasi baja berkelanjutan.

Selain itu, pertemuan tersebut juga dimanfaatkan untuk mengeksplorasi peluang pembentukan Mutual Recognition Agreement (MRA) antara SSA dan Standar Industri Hijau (SIH). Kerja sama ini diharapkan dapat menjadi instrumen penting dalam menekan hambatan non-tarif berbasis lingkungan (green barriers), serta memperluas akses dan daya saing produk baja Indonesia ke pasar Australia, Selandia Baru, dan pasar global lainnya.